Semua Adalah Tentang “Saya”
Hai! Lama nggak bersua. Padahal dulu pengin banget bisa aktif nulis lagi minimal sebulan sekali. Tapi karena banyak aral melintang KEMALASAN dan banyak hal kompleks lainnya akhirnya nggak terwujud deh sampai tengah tahun ini.
Yah, lebih baik terlambat (dan
mencoba) daripada nggak sama sekali ya kan?
Kali ini aku pingin ngebahas buku
yang baru aku tamatin dan (sedikit) curcol tipis-tipis. Aku yakin buku ini udah
sangat terkenal sih, bahkan pas aku beli di toko buku, 2 buku ini termasuk
jajaran buku TOP BEGETEH LARIS BANGET! Penasaran gak bukunya apa? (jeng jeng
jeng)
INI DIA!
Berani Tidak Disukai dan Filosofi Teras
Sebelum aku bahas buku ini,
kenapa sih aku tertarik buat beli? Aku beli buku ini udah agak lama sih, total
aku baca 2 buku ini mungkin sekitar 1,5 tahun. Wow, ini baca buku apa ngapain
kok lama banget? Entah kenapa sekarang aku tipe yang membaca buku sesuai mood,
kalau lagi mood ya baca tapi kalau nggak yaudah nanti lagi bacanya ehe.
Sebenernya 2 buku ini punya hal yang pingin aku pelajari dan terapkan tentang menata jiwa dan pikiran. Pelajaran kuliah aja nggak cukup? Bukan gitu
sih, tapi lagi butuh menambah sudut pandang ajasih karena menurut review nya oke banget jadi nggak heran kalau jadi best seller.
1 hal yang terpikir setelah baca 2 buku ini “Aku bisa nerapin nggak ya?”
2 buku ini sebenarnya banyak
banget memberikan pandangan baru buat aku pribadi yang bikin aku mikir “Oh iya
bener juga ya”, kalian tahu kan rasanya click sama bacaan yang kalian baca? Rasanya
relevan banget sama kehidupanmu? Nah, aku bakal ngerangkum poin-poin yang aku
banget yang (semoga) bisa istiqomah aku terapin di kehidupanku.
1. Hanya kita yang bisa mengontrol diri kita
Pikiran-pikiran
yang selama ini kita bangun sebenarnya itu karena kemauan kita buat memikirkan
itu. Intinya selama kita nggak mau mikirin itu ya nggak akan terlintas di
benakmu. Jadi, kita yang punya kendali atas pikiran kita. Tapi jujur aja kerasa susah banget karena akhir-akhir ini
sering banget pesimis sama diri sendiri dan sering ngeluh sama kehidupan ”kok
begini ya? Kenapa ya?” kayak semua gak sesuai sama ekspektasi. Cuma emang kita
harus memaksa diri kita untuk nggak mikirin itu, karena kembali lagi bahwa kita
yang punya kontrol atas diri kita. Mungkin bisa coba bikin reminder di
wallpaper HP, laptop, atau tulisan-tulisan estetik di spot-spot yang sering
kita lihat buat bikin rileks pikiran.
2. Kita nggak bisa mengendalikan orang lain dan ada hal yang tidak bisa kita kontrol
Hal ini yang
harus bener-bener diinget ketika kita marah atau ngerasa emosi sama orang lain
atau suatu kejadian. Ya karena itu semua di luar kontrol kita, termasuk kritikan maupun komentar orang lain. Jadi, kita bisa
berhemat tenaga dan lebih bisa mendamaikan jiwa. Akhirnya kita bilang “Yaudahlah,
nggak usah dipikirin”, walaupun dalam hati menangis pedih sih.
3. Kita berkontribusi dengan cara masing-masing
Respect dengan
diri sendiri adalah hal yang penting. Kita harus meyakini bahwa kita telah
berkontribusi di kehidupan ini, sekecil apa pun itu. Dan ini adalah wujud rasa
terimakasih atas kehadiran diri kita dan jadi lebih bisa memaknai hidup sih.
4. Fokus pada saat ini
Bukannya
meniadakan masa lalu dan masa depan, tetapi memaknai waktu saat ini. Besok akan
tetap menjadi prediksi dan apa yang kita hadapi adalah kenyataan saat ini kan?
ketika diberi waktu saat ini ya lakukan yang terbaik karena waktu nggak
bisa terulang. Apa yang kita dapat besok
adalah kerja keras kita hari ini.
Sebenarnya masih banyak poin
penting lain yang dibahas, tapi aku ambil TOP 4 yang semoga bisa aku terapin
secara rutin. Maklum, masih newbie di dunia emerging adult. Apalagi kehidupan di masa quarter life crisis. Ngerasa nggak sih ada di fase nyari identitas sebagai
orang dewasa dan masih belum settle secara emosional?
Well, buku ini cukup memberikan
pengaruh ke aku secara pribadi, khususnya dalam hal menata jiwa. Walaupun ya
seringkali masih bandel. Bahkan ketika aku ngerasa nggak kuat, seringkali mewek
dan itu cukup melegakan sih karena aku ngerasa tahu batasku sampai mana. Untuk
saat ini pun masih memulihkan jiwa dengan memperbanyak “Me Time” dan lebih
dekat sama support system-ku. Aku juga mulai mengurangi bermain social media
yang bertujuan “melihat kehidupan orang lain” karena itu lebih sehat untuk
jiwaku. Yang terpenting adalah kenyamanan dan kedamaian diri sendiri.
Buat kamu yang lagi struggle
juga, tetap semangat. Semoga semua ini cepat berlalu. Dan apabila dirasa butuh
bantuan, jangan ragu datang ke ahli. Hargai jiwamu, hargai hidupmu.

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar