Belajar dari K-Drama Green Mothers Club : Perjuangan Ibu Demi Anak
Sekilas tentang drama ini, bercerita
tentang para ibu yang anak-anaknya bersekolah di SD yang sama. Ibu-Ibu ini
hadir dengan berbagai macam latar belakang. Nah, ibu-ibu ini dipersatukan dalam
suatu klub sesuai judul drama ini. Masing-masing ibu punya ambisi yang sama
untuk bisa memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya dan pingin anaknya
bisa masuk sekolah favorit dan jadi sukses. Cuma klub ini agak-agak toxic
karena jadi ajang julid, pamer, bermuka dua, pokoknya ada aja yang bikin ngelus
dada. Kalau boleh aku simpulin dalam satu kalimat, hmmm drama ini adalah tentang
ambisi, usaha, dan harapan para ibu
dalam memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Drama ini nggak hanya tentang kehidupan para ibu dan anak-anaknya kok, drama ini juga terselip cerita
tentang kehidupan para orang dewasa, baik sebagai orang tua, suami-istri, teman
maupun musuh. Jujur aja di setiap episode selalu ada emosi, entah senang, sedih,
marah, kecewa, bahkan semua campur jadi satu.
Yang aku appreciate di drama ini
adalah kemampuan para aktor/aktris-nya men-deliver makna setiap cerita dan
applause juga untuk penulis naskah yang bisa menghadirkan drama yang relate
banget sama kehidupan. Walaupun statusku masih single dan belum berkeluarga
saat ini, tapi drama ini cukup mampu mewakili cerita yang seringkali aku lihat
di sosmed atau yang aku lihat sendiri yang dialami orang sekitarku. Sekaligus
juga bisa memberikan gambaran ke depan untuk kehidupan aku dongs
*ceileh.
Nggak afdol kalau udah nonton
tapi nggak cerita tentang apa yang bikin drama ini bisa relate banget. Apasih pelajaran yang bisa diambil dari drama ini? Tulis
dulu biar jadi reminder buat aku juga di masa depan ehe. Sorry kalau misalnya
spoiler :( mungkin bakal aku certain scene nya biar makin bisa bayangin
gimana yaaa.
1. Jangan menjadi orang lain untuk disukai orang lain, tetapi jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri
Episode awal bercerita tentang seorang ibu yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru pasca
pindah rumah. Ibu-ibu lainnya berusaha menjadi disukai oleh mayoritas ibu-ibu
di sana agar diterima. Walaupun nggak suka, tetap harus berpura-pura di depan
orang lain demi kebaikan anak-anak mereka agar bisa sukses. Ibu yang baru
pindah itu awalnya ngikut arus ibu-ibu lainnya, namun ada beberapa kejadian yang berkaitan dengan anaknya
dan akhirnya menyebabkan ibu itu jadi dikucilkan, bahkan difitnah. Kemudian
ibu itu tersadar bahwa ia harus membuktikan kepada ibu-ibu yang
meremehkan anaknya. Akhirnya ibu itu mengerahkan seluruh usaha terbaiknya dan nggak
peduli nyinyiran ibu-ibu lain. Hingga akhirnya dia bisa membuktikan versi terbaik anaknya dan
bikin ibu-ibu lain akhirnya bisa respect. Ini contoh bahwa usaha nggak akan mengkhianati hasil.
Kita tidak dilahirkan untuk menyenangkan semua orang, tetapi kita buat orang lain
senang dengan versi terbaik diri kita.
2. Ketika kita marah karena merasa orang lain punya segalanya yang kita inginkan, bisa saja sebenarnya kita sedang bertarung dengan rasa rendah diri kita.
Mungkin kita
pernah ya ngerasa iri sama pencapaian orang lain. Nah! Kadang kecemburuan ini
yang bikin kita jadi menutup mata dan marah. Ini juga yang dirasakan sama salah satu
tokoh Ibu di drama ini. Jadi kecemburuan akan pencapaian tokoh ibu lainnya yang menyebabkan mereka jadi musuhan. Namun akhirnya ibu itu menyadari bahwa itu karena rasa rendah
dirinya. Tokoh ibu lainnya memiliki hal yang paling diinginkan oleh
ibu tersebut. Emang rasa iri dan rendah diri itu bisa berubah jadi penyakit hati dan
bikin hidup jadi runyam. Yang perlu kita sadari adalah setiap orang memiliki
versi terbaiknya masing-masing. Tugas kita cari potensi tersebut untuk bikin
kita makin glow. Jadi fokus aja untuk merubah diri sendiri dan jadi versi
terbaik dari diri kita.
3. Memaksakan keinginan ataupun ekspektasi kita pada orang lain hanya akan menambah beban bagi mereka
Para Ibu berlomba-lomba untuk menjadikan anak mereka yang terbaik yang tanpa sadar bisa menambah beban bagi para anak dan bisa berdampak pada permasalahan psikologis. Para ibu nggak menyadari hingga anak mereka mulai menunjukkan permasalahan mereka. Pengemasan cerita yang makjleb
Yang aku bikin
takjub juga adalah scene dimana ibu-ibu ini akhirnya mencari bantuan ke profesional.
Ini sekaligus meningkatkan awareness untuk penonton bahwa keadaan psikologis bukan
hal yang remeh dan perlu menjadi perhatian. Dan ini gak berlaku cuma buat
anak-anak, bahkan orang dewasa pun perlu ke profesional kalau memang merasa ada
yang nggak beres. Akhirnya kita jadi tau apasih penyebab, kondisi kita, bahkan solusinya.
Kembali terkait
ekspektasi, ini gak cuma terhadap anak tetapi berlaku untuk orang dewasa. Mungkin
secara nggak sadar ya kita ngasih ekspektasi ke orang lain atau bahkan diri
sendiri. Tapi perlu diingat, tubuh juga butuh istirahat dan jangan terlalu
keras. Kata kata “are you okay?” “apakah kamu nyaman?” kurasa udah cukup
memberi gambaran seberapa beban ekspektasi tersebut.
4. Ada kalanya lebih baik kita tidak mengetahui apa-apa
Setiap orang punya
rahasianya masing-masing dan ini masuk ranah privasi orang tersebut. Kita nggak
bisa maksa orang untuk berbagi semua hal. Tapi mungkin lain cerita kalau antara
suami istri atau anak orang tua.. keterbukaan itu perlu. Tapi yang bikin nyess dan ketampar adalah fakta bahwa kita tidak berhak mencampuri urusan orang lain.
Karena justru kita bisa jadi mengorek luka lama atau mungkin akan hal yang
paling memalukan bagi dia. Mungkin support emosional sudah cukup seperti “semoga
lancar” “semoga semua akan baik-baik saja” atau bahkan “semua akan berlalu” bisa
amat sangat melegakan. Daripada maksa cerita tapi ujung-ujungnya bikin runyam
ataupun malah gak berakhir solusi. Intinya hargai ketika orang memutuskan untuk
tidak bercerita. Stop! Walaupun ibarat kalian sahabat baik yaa cukup hargai privasi
temanmu.

Komentar
Posting Komentar